Jumat, 19 Juli 2013

KARUN DAN RAJA MIDAS

Karun dan Raja Midas
Pembaca koran Rakyat Kalbar mungkin tidak terlalu asing dengan nama Karun. Karun menjadi simbol kemewahan sekaligus keserakahan. Memiliki harta yang berlimpah justru membuatnya sombong dan kikir. Ia tak mau menafkahkan hartanya untuk kepentingan-kepentingan kemanusiaan. Tuhan murka. Anugerah yang seharusnya disyukuri justru menjadikannya pongah. Karun beserta seluruh hartanya kemudian ditenggelamkan ke perut bumi. Menjadilah dia disebut sebagai harta karun yang diingat setiap orang.
Karun hidup sezaman dengan Nabi Musa. Awalnya dia miskin namun sangat saleh. Kesalehannya cukup menonjol di kalangan para pengikut Nabi Musa AS. Sampai suatu hari ia minta didoakan agar menjadi kaya. Singkat cerita Karun pun menjadi kaya raya. Bahkan diriwayatkan saking kayanya, kunci gudang emasnya saja harus dibawa oleh unta. Namun kekayaan dan kesenangannya menumpuk harta justru malah membinasakannya. Mati konyol.
Sebenarnya banyak kisah serupa tentang bagaimana keserakahan justru membawa sengsara. Dalam mitologi Yunani, keserakahan disimbolkan dengan Raja Midas. Ia raja yang kaya raya. Namun tak puas dengan kekayaannya. Ia ingin lebih. Sementara rakyat hanya bisa pasrah lantaran tak punya nyali untuk melawan. Sampai akhirnya rakyat bersorak ketika mendengar kabar bahwa Raja Midas menjadi gila lantaran permaisuri berubah menjadi patung emas.
Selidik punya selidik ternyata raja yang kekayaannya tak tertandingi seantero negeri itu masih belum puas dengan kemewahan serta jabatan yang dimilikinya.
Midas kemudian bersemadi di sebuah tempat. Meminta kepada para dewa agar diberikan kekuatan magis sehingga apa pun yang sentuh tangannya berubah menjadi emas. Sekian lama bertapa, akhirnya dewa mengabulkan permintaannya. Midas riang bukan kepalang. Ia pun bergegas pulang. Mula-mula pagar istana disentuhnya. Seketika itu pula pagar berubah menjadi emas. Kemudian istananya, lalu lanjut ke semua barang-barang di istananya. Girang bukan main Midas. Ia merasa dirinyalah yang paling kaya di kolong langit.
Petaka terjadi ketika Midas mulai merasa lapar. Saking laparnya lantaran sudah lama bertapa, ia lupa dengan kekuatannya. Begitu menyentuh makanan, seketika itu pula makanan itu menjadi emas. Midas mulai takut, bingung, dan waswas. Ia menjerit-jerit ketakutan hingga terdengar permaisurinya. Melihat sang raja sudah kembali, permaisuri yang telah lama menahan rindu langsung memeluk Midas. Kebingungan Midas bertambah ketika mengetahui sang permaisuri pun berubah menjadi emas.
Tragis memang. Sejak saat itu, Midas merasa kesepian, bingung, sedih, menyesali diri, sampai akhirnya menjadi gila. Sementara rakyat hanya bisa mencemooh sambil mengurut dada.
Midas memang hanyalah mitos. Namun bukan berarti karakternya tidak ada di zaman sekarang. Karakter Midas dan Karun bisa menjangkiti siapa saja. Politisi, pengusaha, pejabat, atau calon pejabat. Pendeknya siapa pun yang kemaruk dengan kekuasaan, jabatan, kemewahan, dan menjadikan semua itu tujuan hidupnya. Ia merasa bahwa semua itu dapat membuatnya bahagia. Kita pun jangan dulu menuding. Bisa jadi karakter Karun dan Midas belum tampak pada diri kita lantaran belum ada fasilitas dan kesempatan.
Prinsipnya, harta, pangkat, maupun jabatan tidaklah buruk selama itu tidak menjauhkan seseorang dari si pemilik harta yang sesungguhnya. Ia harus berfungsi sosial agar tak menumpuk pada segelintir orang yang ujung-ujungnya akan menimbulkan kecemburuan sosial. Toh pada akhirnya ketika kembali menghadap Tuhan, tak ada satu pun yang kita bawa. Jadi jangan sampai membuat Tuhan “tersinggung” dengan mempertuhankan selain diri-Nya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar