Karun dan Raja
Midas
Pembaca koran Rakyat Kalbar mungkin tidak terlalu
asing dengan nama Karun. Karun menjadi simbol kemewahan sekaligus keserakahan.
Memiliki harta yang berlimpah justru membuatnya sombong dan kikir. Ia tak mau
menafkahkan hartanya untuk kepentingan-kepentingan kemanusiaan. Tuhan murka.
Anugerah yang seharusnya disyukuri justru menjadikannya pongah. Karun beserta
seluruh hartanya kemudian ditenggelamkan ke perut bumi. Menjadilah dia disebut
sebagai harta karun yang diingat setiap orang.
Karun hidup sezaman dengan Nabi Musa. Awalnya dia
miskin namun sangat saleh. Kesalehannya cukup menonjol di kalangan para
pengikut Nabi Musa AS. Sampai suatu hari ia minta didoakan agar menjadi kaya.
Singkat cerita Karun pun menjadi kaya raya. Bahkan diriwayatkan saking kayanya,
kunci gudang emasnya saja harus dibawa oleh unta. Namun kekayaan dan
kesenangannya menumpuk harta justru malah membinasakannya. Mati konyol.
Sebenarnya banyak kisah serupa tentang bagaimana
keserakahan justru membawa sengsara. Dalam mitologi Yunani, keserakahan
disimbolkan dengan Raja Midas. Ia raja yang kaya raya. Namun tak puas dengan
kekayaannya. Ia ingin lebih. Sementara rakyat hanya bisa pasrah lantaran tak
punya nyali untuk melawan. Sampai akhirnya rakyat bersorak ketika mendengar
kabar bahwa Raja Midas menjadi gila lantaran permaisuri berubah menjadi patung
emas.
Selidik punya selidik ternyata raja yang kekayaannya
tak tertandingi seantero negeri itu masih belum puas dengan kemewahan serta
jabatan yang dimilikinya.
Midas kemudian bersemadi di sebuah tempat. Meminta
kepada para dewa agar diberikan kekuatan magis sehingga apa pun yang sentuh
tangannya berubah menjadi emas. Sekian lama bertapa, akhirnya dewa mengabulkan
permintaannya. Midas riang bukan kepalang. Ia pun bergegas pulang. Mula-mula
pagar istana disentuhnya. Seketika itu pula pagar berubah menjadi emas.
Kemudian istananya, lalu lanjut ke semua barang-barang di istananya. Girang
bukan main Midas. Ia merasa dirinyalah yang paling kaya di kolong langit.
Petaka terjadi ketika Midas mulai merasa lapar. Saking
laparnya lantaran sudah lama bertapa, ia lupa dengan kekuatannya. Begitu
menyentuh makanan, seketika itu pula makanan itu menjadi emas. Midas mulai
takut, bingung, dan waswas. Ia menjerit-jerit ketakutan hingga terdengar permaisurinya.
Melihat sang raja sudah kembali, permaisuri yang telah lama menahan rindu
langsung memeluk Midas. Kebingungan Midas bertambah ketika mengetahui sang
permaisuri pun berubah menjadi emas.
Tragis memang. Sejak saat itu, Midas merasa kesepian,
bingung, sedih, menyesali diri, sampai akhirnya menjadi gila. Sementara rakyat
hanya bisa mencemooh sambil mengurut dada.
Midas memang hanyalah mitos. Namun bukan berarti
karakternya tidak ada di zaman sekarang. Karakter Midas dan Karun bisa
menjangkiti siapa saja. Politisi, pengusaha, pejabat, atau calon pejabat.
Pendeknya siapa pun yang kemaruk dengan kekuasaan, jabatan, kemewahan, dan
menjadikan semua itu tujuan hidupnya. Ia merasa bahwa semua itu dapat
membuatnya bahagia. Kita pun jangan dulu menuding. Bisa jadi karakter Karun dan
Midas belum tampak pada diri kita lantaran belum ada fasilitas dan kesempatan.
Prinsipnya, harta, pangkat, maupun jabatan tidaklah
buruk selama itu tidak menjauhkan seseorang dari si pemilik harta yang
sesungguhnya. Ia harus berfungsi sosial agar tak menumpuk pada segelintir orang
yang ujung-ujungnya akan menimbulkan kecemburuan sosial. Toh pada akhirnya
ketika kembali menghadap Tuhan, tak ada satu pun yang kita bawa. Jadi jangan
sampai membuat Tuhan “tersinggung” dengan mempertuhankan selain diri-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar